AD (728x60)

Tuesday, 27 May 2014

Kursus Multi Bahasa

Share & Comment




"Bayar satu harga, bebas ambil beberapa kelas bahasa." 


Tiga hari lalu, pada Sabtu malam aku lagi jalan-jalan sama teman. Karena kami mau menghindari macet di jalan, kami berencana sekalian aja pulang agak malam. Kebetulan kami melintasi tempat kursus itu, supaya sekalian makan waktu, aku ajak dia mampir ke tempat kursus itu untuk tanya-tanya.  Sungguh bombastis waktu education consultant-nya bilang, "Bayar satu harga, bebas ambil beberapa kelas bahasa."

Ini dia yang gue cari-cari, pikirku. Sudah lama aku pingin 'merapikan' ilmu-ilmu bahasa yang berserakan di repertoire-ku. Maksudnya, selama ini aku belajar beragam bahasa asing otodidak, dan tanpa teman kursus. Walhasil, aku kurang semangat, tidak punya tempat bertanya, dan mudah bosan. Aku ingin mengorganisir hapalan-hapalan yang berserakan di lumbung bahasaku, di suatu tempat di otak kiriku dan menanyakan seluruh hal yang bikin aku penasaran selama ini pada guru-guru bahasa.

Education consultant (baca: marketer) itu melayani pertanyaan-pertanyaan aku dan temanku di meja lounge. Selain dia, ada juga teman marketernya dan supervisornya berusaha meyakinkan aku. Singkat kata, malam itu aku tidak memutuskan untuk langsung daftar dan bayar. Karena biasanya sebelum memutuskan sesuatu yang mengandung unsur 'membayar', aku selalu nunggu semalaman untuk dapat wangsit dari Yang Di Atas atau aku menunggu pikiran bawah sadarku yang memutuskan penting atau tidaknya ikut kursus ini. Akhirnya, kami pulang ke rumah masing-masing.

Tengah malam, aku bawa tidur pikiran itu dan janji, "Kalau besok pagi saat otak masih fresh aku menganggap ikut kursus ini nggak penting, otomatis aku gak jadi kursus. Dan sebaliknya, kalo aku masih kepikiran tentang kursus ini, berarti aku memang harus ikut kursus itu." Keesokan paginya, aku cengar-cengir mikirin kursus itu. Yang kupikirkan bukan hanya manfaat belajar bahasa aja, tapi juga input-input berharga tentang pengajaran bahasa. Aku bisa berkaca dari guru-guru lain di mana posisiku sebagai guru bahasa. Aku bisa melihat diriku di dalam posisi mereka dan mengoreksi apa yang kurang dan mempertahankan apa yang sudah bagus dalam metode ajarku.

Rupanya keputusan iseng kami malam itu untuk tanya-tanya di kursus tersebut justru menjadi titik tolak karirku sebagai (calon) linguist.

Sore menjelang malam, aku ke tempat kursus itu untuk daftar dan bayar. Sore itu juga aku langsung dites bahasa Prancis untuk menentukan levelku. Saat mengerjakan tes, lagi-lagi aku cengar-cengir membaca soal-soal yang (aku gak percaya) bisa kumengerti semuanya. Aku ini pelajar otodidak! Bagaimana mungkin pembelajaran selama ini berhasil? (karena aku malas, kurang komitmen). Aku bisa mengerti bacaan dalam bahasa Prancis tapi kalo disuruh nulis atau ngomong dalam bahasa Prancis, aku gak bisa!  Ada apa dengan otak bahasaku?

Setelah tes, malam itu aku langsung ikut pelajaran Bahasa Jerman, kemudian Bahasa Mandarin, dilanjutkan dengan Bahasa Korea. Temanku yang menemani aku diprospek marketing kursus itu tanya, "Jadi gak ikut kursus?" Waktu kuceritain semuanya, dia komentar, "Enak yaa.. walaupun kelihatannya berat dijalani tapi kalo minatnya di situ, jadi terasa ringan." Sebenarnya, aku justru senang dan semangat 45 menjalani semua kelas ini. Memang banyak sekali hapalannya, tapi aku udah menyiapkan sejuta strategi (sebagai guru bahasa selama 13 tahun tentunya trik-trik dasar murid bahasa harus sudah dikuasai, hehe...).

Temanku yang lain ngajak ketemuan hari itu. Waktu kubilang, "Yaaah maaf, waktunya minim sekali. Saya lagi kursus bahasa...." Reaksi temanku benar-benar nggak terduga. Dia bilang, "Wow! You are a true linguist."  Well, hahaha.....ya iya lah. Belajar kan gak kenal usia, gak kenal senioritas, jabatan dan jam terbang profesi!

Esoknya aku ambil kelas remedial Bahasa Mandarin, Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Selesai kursus Minggu kemarin, aku janjian sama temen lama sekedar catching up aja karena masing-masing sibuk. Sambil melahap ramen panas di Gokana, kami ngobrol-ngobrol. "Abis kursus apa tadi?" tanyanya. Aku jawab sambil menunjukkan dia jadwal kursusku selama seminggu. Reaksi Yudi bukannya berkata-kata malah megang jidat gue, "Panas lu yak?" yang artinya, busyeeet emang kuat itu otak lu menyerap kursus sebanyak ini? Aku hanya terkekeh.

Hari ini, aku belajar tujuh bahasa dalam 12 jam, diselingi istirahat dan makan tentunya. Fiuuuh, otak ngepul! 

Jadi, sudah beberapa hari belakangan ini aku ikut kursus multi bahasa. Harga kursusnya terbilang murah untuk 10 pilihan bahasa asing. Pada saat aku mendaftar jadi murid, kelas-kelas sudah berjalan satu minggu, itu artinya aku ketinggalan tiga pertemuan untuk masing-masing kelas bahasa. Aku tahu, pelajaran akan semakin sulit dari hari ke hari, dari satu bab ke bab berikutnya. Tantangan akan semakin meningkat. Bukan cuma di tempat kursus-- tapi juga tuntutan pekerjaanku yang berhadapan dengan jalan raya; dan klien-klien beragam sifat serta PR-PR kantor akan menambah tingkat kestresan.

Bisa jadi suatu saat aku akan drop out dari beberapa kelas untuk fokus beberapa bahasa aja. BISA JADI :-)
Tags:

About the author

Hening is a laid-back ENTP (by upbringing) and a solar-Scorpio-and-lunar-Sagittarius (by birth). She believes that thrifting is an art form that helps rewire our brain circuits for the better.

 

CLIENTS (2001-2019)

SMS/Text only: +1 (646)2 333 400

Copyright © Hening Dian Paramita as TRAVELINGUIST. | Templateism