AD (728x60)

Thursday, 3 October 2013

Mengajarkan Partikel 'kan' pada Anak

Share & Comment
Malam itu saya sedang di bis TransJakarta ketika saya dengar pembicaraan seorang anak kira-kira berusia 4 tahun dengan bapaknya.Tampaknya anak itu dari luar Jakarta, karena dia sangat terpukau dengan suasana malam ibukota yang gemerlapan.

"Pak, pak...itu kan Monas ya... Monasnya tinggi ya Pak?"
Bapaknya cuma mengiyakan dengan berdehem.

"Pak..pak, tuh liat ada orang jualan topeng malam-malam. Serem deh pak, topengnya."

Karena lagi nggak ada yang dipikirin saat itu, saya menyimak kalimat-kalimat si bocah ini. Bukan pertama kali saya dengar anak kecil yang cerewet seperti dia. Tapi kali itu saya terkesima dengan keajaiban sistem bahasa dalam otak anak kecil yang memungkinkannya memperoleh pemahaman semantik.

Yang saya maksud di sini bukan hanya makna semantik kata benda kongkret seperti "MONAS", "orang", "topeng", tapi makna partikel-partikel (misalnya 'kan', 'deh') yang hampir tidak mungkin dijelaskan oleh rumus tata bahasa dan logika. Bagaimana mungkin otak seorang anak kecil bisa memahami konsep abstrak seperti itu.

Untuk dia bisa memakai (output) suatu kata dengan tepat guna, pasti dia sudah mendapat pengalaman (input) dari mendengar orang lain memakai kata tersebut, lalu 'memaknai'nya melalui proses trial and error sampai akhirnya ia menemukan makna yang tepat seperti yang berlaku dalam komunitas bahasanya.

Hebat.  Memikirkan daya kerja otak anak kecil itu, saya sampai geleng-geleng kepala.
Tags:

About the author

Hening is a laid-back ENTP (by upbringing) and a solar-Scorpio-and-lunar-Sagittarius (by birth). She believes that thrifting is an art form that helps rewire our brain circuits for the better.

 

CLIENTS (2001-2019)

SMS/Text only: +1 (646)2 333 400

Copyright © Hening Dian Paramita as TRAVELINGUIST. | Templateism